Mata Minus, Baca sambil Tiduran, dan Lampu

Waktu kita kecil biasanya ibu memarahi kita karena membaca sambil tiduran, katanya nanti matanya rusak. Benarkah demikian? Sebenarnya yang menyebabkan mata minus bukan posisinya melainkan lampu yang menerangi tulisannya. Jadi tidak ada hubungan antara membaca sambil tiduran dengan timbulnya kelainan mata.  Pada posisi membaca sambil duduk, lampu yang menerangi biasanya dating dari atas, sehingga posisi demikian ini dianggap yang paling baik. Namun tidak ada salahnya mengingatkan anak untuk tidak membaca sambil tiduran, apalagi bila penerangan tidak cukup.

Untuk keperluan membaca atau melakukan pekerjaan tangan yang rumit disarankan menggunakan bola lampu susu 40 watt. Sebaiknya sinar dipusatkan pada obyek bacaan atau pekerjaan yang dilakukan. Bola lampu susu tidak silau karena ada filternya. Sedangkan lampu neon tidak disarankan karena sinarnya berupa getaran. Lampu duduk dengan bohlam 60 watt dinilai terlalu terang. Sebaliknya bohlam di bawah 40 watt dinilai terlalu redup.

Bola lampu susu

Kurangnya penerangan yangcukup menyebabkan kerja otot terlalu berat sehingga mata mudah lelah dan pedih. Inilah yang mempercepat timbulnya myopia atau rabun jauh.

Semoga bermanfaat

dikutip dari depkes.go.id

6 Replies to “Mata Minus, Baca sambil Tiduran, dan Lampu”

  1. dr.Puji Susanto

    trims infonya..cuma mau nambahin aja. Menurut saya,Baca sambil tiduran tetap merusak mata,sebab pada posisi berbaring,obyek baca (buku,Hp dll) yang dipegang tangan akan sering berubah jaraknya dengan mata ( tidak fixed seperti kalau bukunya ditaruh di meja) jadi akan terjadi perubahan akomodasi lensa mata berulang2,menyebabkan otot mata cepat capek dan mata bisa cepat rusak.

Leave a Reply to dr.Puji Susanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *