Pemeriksaan NT-proBNP pada Gagal Jantung

Penderita gagal jantung di Indonesia seringkali datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat , dimana penderita merasakan sesak walaupun pada kondisi istirahat. Penderita dengan gagal jantung tahap awal, biasanya mengeluh sesak saat terlentang atau sesak setelah melakukan aktivitas ringan, jarang memeriksakan diri ke dokter. Memang sudah menjadi kultur di negara kita, terutama di daerah pedesaan, tidak dikatakan sakit jika masih bisa bergerak dan bekerja walaupun dengan menahan sakit. Pada penderita yang hanya mengeluh sesak ringan seperti ini, perlu dibedakan penyebabnya apakah memang dari gagal jantung atau ada penyakit paru contohnya asma atau bronkitis. Salah diagnosis gagal jantung dengan diberikan pengobatan asma dapat memperparah kondisi penderita. Salah satu caranya adalah dengan memeriksa kadar NT-proBNP dalam darah.

Brain natriuretic peptide (BNP) adalah salah satu keluarga dari peptida natriuretik yang berperan sebagai hormon polipeptida pada keseimbangan cairan tubuh dan tonus pembuluh darah. BNP dikeluarkan oleh otot jantung di atrium dan ventrikel, terutama oleh ventrikel kiri. BNP dikeluarkan sebagai hormon pre-proBNP yang kemudian dipecah menjadi proBNP  yang tersimpan dalam sel otot jantung. Adanya rangsangan, seperti peregangan otot jantung, menyebabkan pecahnya proBNP menjadi BNP dan NT-proBNP yang dilepas ke sirkulasi. BNP dianggap aktif secara biologis sebagai neurohormon, sedangkan NT-proBNP tidak aktif. (Lihat Gambar 1)

Jalur Sintesis BNP (Spanaus and Eckardstein, 2007)

 

Pada berbagai penelitian, pemeriksaan BNP dan NT-proBNP memiliki nilai diagnostik dan prognostik yang cukup baik dalam penatalaksanaan penderita gagal jantung. Sensitivitas pemeriksaan BNP sekitar 90% dengan spesifisitas 72%. Spesifisitas pemeriksaannya lebih rendah karena terdapat beberapa penyakit selain gagal jantung yang dapat meningkatkan kadarnya, seperti emboli paru. NT-proBNP dianggap lebih efisien dibandingkan BNP sebagai biomarker, karena lebih stabil, bisa disimpan lebih lama, waktu paruh lebih panjang, dan sampel darah bisa menggunakan sampel serum dan plasma. Cut off pemeriksaan BNP >100 ng/ml dan NT-proBNP >300 ng/ml.

Algoritma BNP dan NT-proBNP pada Diagnosis Gagal Jantung (Spanaus and Eckardstein, 2007)

 

Pada algoritma di atas bisa dilihat bahwa penderita dengan gejala dan tanda yang mengarah pada diagnosis gagal jantung, dilakukan pemeriksaan BNP/NT-proBNP. Jika hasil meningkat (BNP >100 ng/ml atau NT-proBNP >300 ng/ml), kemungkinannya adalah gagal jantung sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengkonfirmasi, yaitu echocardiography atau MRI. Jika hasil normal (BNP <100 ng/ml atau NT-proBNP <300 ng/ml), perlu dipikirkan penyebab sesak selain gagal jantung.  (Gambar 2A dan 2B).

NT-proBNP terutama diekskresi oleh ginjal, sehingga pada penderita gagal ginjal dengan kecurigaan gagal jantung perlu dilakukan penyesuaian kadar cut off. Semakin rendah laju filtrasi glomerulus (GFR) penderita, cut off yang digunakan makin tinggi (Gambar 2c).

Perlu diketahui bahwa pemeriksaan BNP dan NT-proBNP ini sebaiknya tidak dilakukan setiap hari. Salah satu literatur menyarankan dilakukan tiga kali pemeriksaan, saat pertama kali opname, 24 jam setelah pengobatan, dan saat keluar rumah sakit.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Spanaus KS and Eckardstein A. 2007. Natriuretic peptides in cardiac and renal failure. Pipette Swiss Laboratory Medicine 6; 6-11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *