Prosedur Pelaksanaan Transfusi Darah

Transfusi  darah adalah terapi medis yang memiliki risiko penyulit terbesar baik dalam waktu pendek (reaksi transfusi), dalam waktu menengah (risiko penyakit ) dan waktu panjang (reaksi imunologis). Jika keputusan melakukan transfusi darah telah diambil, maka siapapun yang terlibat dalam proses pelaksanaan transfusi, baik itu dokter, perawat, dan analis bank darah mempunyai tanggung jawab guna memastikan kantong darah yang tepat diberikan pada pasien yang tepat pada waktu yang tepat.

Semua rumah sakit wajib mengikuti pedoman nasional penggunaan darah. Jika pedoman nasional masih belum ada, maka tiap rumah sakit harus membuat pedoman sendiri dan membentuk komite transfusi darah untuk mengawasi penggunaan darah dan menyelidiki jika terjadi reaksi transfusi.

Berikut beberapa prosedur umum pelaksanaan transfusi darah yang sebaiknya diikuti oleh setiap petugas medis yang bertugas dalam pelaksanaan transfusi:

  1. Tidak dilakukan pada malam hari, kecuali darurat.
  2. Pemberian semua komponen darah harus menggunakan transfusion set.
  3. Pasang tranfusion set dan salin  sebelum minta darah donor.

    menggunakan transfusion set, bukan infusion set
  4. Siapkan rekam medik transfusi dan isilah dengan lengkap.
  5. Cocokkan identitas pasien dan label kantong darah dikerjakan oleh dua orang perawat senior.
  6. Ukur tanda vital dan catat di rekam medik transfusi, perawat pelaksana menulis nama terang dan tanda tangan.

    Contoh Rekam Medis Transfusi
  7. Dalam 30 menit darah donor keluar dari lemari pendingin bank darah, transfusi harus sudah dilaksanakan.
  8. Kantong darah donor dibolak-balikkan dan tidak perlu dihangatkan, kecuali pada transfusi masif.
  9. Perawat menerangkan tanda dan gejala reaksi transfusi, bila gejala muncul pasien atau keluarga lapor kepada perawat.
  10. Dalam 15 menit pertama kecepatan 10 tetes per menit dan perawat tetap menunggu pasien untuk mengamati gejala reaksi transfusi yang mungkin muncul.
  11. Bila muncul gejala reaksi transfusi, hentikan transfusi, periksa dan catat tanda vital di rekam medik, dan lapor ke dokter.
  12. Bila aman, tidak ada hipovolemia dan jantung baik kecepatan 20-40 tetes per menit, 1 kantong darah (PRC/WB) selesai dalam 2-3 jam, maksimal 4 jam.

Semoga bermanfaat

Referensi:

WHO The Clinical Use of Blood 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *