Fase Pra-Analitik pada Pemeriksaan Hemostasis

January 30, 2018 Dian Sukma Hanggara 0 Comments

 Pemeriksaan hemostasis sangat penting untuk diagnosis yang akurat dan manajemen yang aman pada pasien dengan perdarahan dan gangguan trombotik. Penggunaan obat-obatan seperti antikoagulan yang digunakan dalam pengobatan pasien dengan penyakit jantung hanya mungkin dilakukan dengan metode laboratorium yang terkontrol dengan baik. Salah satu kontrol laboratorium adalah dengan memastikan tidak ada masalah pra analitik, yaitu fase sebelum dilakukannya analisa sampel dalam laboratorium. Fase pra analitik pada pemeriksaan hemostasis di antaranya adalah:

  1. Pengambilan darah vena
  • Pengambilan darah vena bisa dikerjakan kapanpun jika memungkinkan.
  • Pasien harus relaks dan pada lingkungan yang hangat. Stres yang berlebihan dan kegiatan yang bertenaga atau olahraga dapat meningkatkan faktor VIII, VWF dan fibrinolisis.
  • Pengumpulan darah ke dalam vakutainer sebaiknya dilakukan tanpa tekanan sehingga darah dapat masuk dengan aliran bebas atau dengan tekanan negatif dari vakutainer.
  • Oklusi vena menyebabkan hemokonsentrasi, meningkatkan aktivitas fibrinolisis, reaksi pelepasan trombosit dan aktivasi beberapa faktor koagulasi.
  • Penggunaan torniquet sebaiknya dalam waktu yang sesingkat mungkin.
  • Darah dicampur dengan antikoagulan dengan membolak balik tabung beberapa kali. Sampel harus dikirim ke lab sesegera mungkin, bila tidak harus disimpan di es.

2. Antikoagulan

Citrate BD vacutainer

Antikoagulan yang paling umum digunakan adalah trisodium sitrat, direkomendasikan 32 g/l, karena:

  • Faktor faktor V dan VIII tidak stabil dengan antikoagulan oxalate,dimana heparin dan EDTA dapat secara langsung menghambat proses koagulasi yang mengganggu hasil.
  • Ion kalsium ternetralisir lebih cepat oleh sitrat.
  • Perbandingan sampel dengan antikoagulan adalah 9:1 (contoh : 0,5 ml antikoagulan untuk 5 ml sampel).
  • Jika nilai hematokrit abnormal oleh karena anemia berat atau polisitemia, perbandingan sampel dengan sitrat harus ditambahkan, dengan perbandingan sebagai berikut:
Perbandingan sitrat : sampel darah (Bain B, 2017)

3. Pengiriman ke laboratorium

Sampel harus dikirim sesegera mungkin ke laboratorium untuk mencegah kerusakan faktor labil terutama faktor V dan VIII.

4. Sentrifugasi

Pemeriksaan koagulasi secara rutin dilakukan sebagai platelet poor plasma (PPP) yang disentrifugasi dengan kecepatan 2000g selama 15 menit pada suhu 4oC (kurang lebih 4000 rev/mnt).

5. Penyimpanan Sampel

  • Pemeriksaan PT dan APTT dilakukan pada sampel yang baru.
  • Pemeriksaan yang dilakukan di kemudian hari disimpan dalam bentuk deep frozen
  • Sampel optimalnya disimpan di aliquot kecil dalam nitrogen cair (-196oC), meskipun sampel dapat disimpan beku -40oC atau -80oC untuk beberapa minggu tanpa kehilangan aktivitas hemostasis yang signifikan.
  • Setelah sampel dicairkan kembali, sampel harus dicampur kembali dengan benar sebelum dilakukan pemeriksaan. Sekali sampel dicairkan, tidak dapat dibekukan kembali. Sampel dihangatkan pada suhu 37oC untuk mecegah pembentukan cryoprecipitate.

 

Semoga bermanfaat

Referensi:

Bain, B., Bates, I., Michael A., L. and Mitchell, L. (2017). Dacie and lewis practical haematology international edition. 12th ed: Elsevier Health Sciences

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *