Mengatasi Spesimen Lipemik pada Pemeriksaan Darah Lengkap

September 6, 2018 Dian Sukma Hanggara 0 Comments

Lipemia adalah kekeruhan pada spesimen yang disebabkan poleh penumpukan partikel lipoprotein. Kilomikron merupakan penyebab utama kekeruhan pada spesimen lipemik, karena memiliki ukuran paling besar, sedangkan HDL, LDL, dan VLDL tidak menyebabkan lipemia.

Berbagai ukuran lipoprotein (gambar diambil dari Nikolac, 2014)

 

Penyebab lipemia paling sering adalah waktu yang terlalu singkat antara makan dengan pengambilan darah dan hal ini sulit dihindari, mengingat banyak pasien datang ke rumah sakit, terutama di IGD, sangat bervariasi interval makanan terakhirnya.

Spesimen lipemik dapat mengganggu pemeriksaan oleh karena mengganggu pembacaan spektrofotometri, interaksi dengan analit yang diperiksa secara fisik dan kimiawi, dan juga mengganggu reaksi antigen-antibodi pada pemeriksaan imunoserologi.

Mendeteksi lipemia pada spesimen darah lengkap (DL) lebih sulit dibandingkan pada serum. Serum lipemik dapat dilihat dengan mata pada konsentrasi TG lebih dari 300 mg/dl, sedangkan spesimen DL baru dapat dilihat pada kadar TG jauh lebih tinggi, yaitu lebih dari 1000 mg/dl. Oleh karena itu, lipemia pada spesimen DL seringkali tidak terdeteksi.

Spesimen DL yang lipemik

 

Kita patut mencurigai adanya bahan yang mengganggu pemeriksaan jika hasil MCHC pasien lebih dari 36 g/dl, kadar Hb dan hitung eritrosit tidak sesuai, ada tanda “Turbidity/HGB Interference” pada alat, atau kadar TG di atas 300 mg/dl. Kekeruhan pada spesimen lipemik dapat mengganggu pancaran dan penyerapan sinar yang menyebabkan hasil Hb tinggi palsu. Ada beberapa pilihan dalam melaporkan hasil DL pada spesimen lipemik.

  1. Hanya melaporkan hasil hematokrit, MCV, hitung eritrosit, leukosit, dan trombosit, dengan catatan hasil Hb tidak akurat karena spesimen lipemik. Jika kondisi klinis memungkinkan, dilakukan pengulangan pemeriksaan dengan spesimen baru yang diambil setidaknya setelah 2-3 jam tidak makan.
  2. Melaporkan hasil hematokrit, MCV, hitung eritrosit, leukosit, dan trombosit dari alat otomatis, ditambah dengan hasil pemeriksaan Hb menggunakan alat point of care testing (POCT). MCH dan MCHC dihitung ulang menggunakan hasil Hb dari POCT.
  3. Mengganti plasma dengan salin. Spesimen DL disentrifus, plasma dibuang dengan hati-hati tanpa mengenai buffy coat, plasma diganti salin dengan volume yang sama, dicampur, dan dilakukan pemeriksaan DL ulang.
  4. Menggunakan rumus koreksi. Spesimen DL diperiksa pada alat otomatis (LB) untuk parameter HCT dan RBC (hitung eritrosit). Sebagian spesimen disentrifus (550g x 3 menit) kemudian diukur Hb pada plasma (LP). Kemudian dimasukkan pada rumus koreksi berikut:
  • Hb(koreksi) = HbLB – (HbLP – HbLP X HctLB)
  • MCH(koreksi) = Hgb(koreksi)/RBC(LB)
  • MCHC(koreksi) = Hgb(koreksi)/Hct(LB)

 

Semoga bermanfaat.

Nikolac N. Lipemia: causes, interference mechanisms, detection and management. Biochem Med (Zagreb). 2014 Feb; 24(1): 57–67.

Zeng et al. A Simple, Fast Correction Method of Triglyceride Interference in Blood Hemoglobin Automated Measurement. ournal of Clinical Laboratory Analysis 27: 341–345 (2013).

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *