Mengatasi Masalah Ikterik pada Spesimen Serum

September 8, 2018 Dian Sukma Hanggara 0 Comments

Pada kimia klinik, adanya bahan-bahan endogen dan eksogen di serum dapat menyebabkan gangguan pemeriksaan, dan merupakan masalah umum yang sering ditemukan di laboratorium kesehatan. Bahan endogen adalah bahan yang berasal dalam tubuh pasien seringkali akibat dari penyakit yang diderita atau karena penanganan spesimen. Empat bahan endogen utama yang konsisten mengganggu pemeriksaan adalah hemoglobin pada spesimen hemolisis, lipid pada spesimen lipemik, bilirubin pada spesimen ikterik, dan paraprotein.

Spesimen ikterik merupakan warna kekuningan pada serum akibat peningkatan kadar bilirubin. Peningkatan bilirubin bisa disebabkan anemia hemolitik (terutama peningkatan bilirubin indirek), sumbatan saluran empedu (terutama peningkatan bilirubin direk), dan kerusakan parenkim hati (bilirubin direk dan indirek meningkat).

Spesimen ikterik

Secara umum spesimen ikterik dapat mengganggu pemeriksaan kimia klinik melalui dua cara, yaitu gangguan pada penyerapan cahaya spektrofotometri dan gangguan kimiawi.

Gangguan penyerapan cahaya.

Bilirubin, baik direk dan indirek, pada serum menyerap cahaya pada panjang gelombang 400 nm sampai 540 nm, dengan puncak panjang gelombang sekitar 460 nm. Metode pemeriksaan kimia metode kolorimetri yang menggunakan panjang gelombang ini, baik utama maupun sekunder, dapat terganggu. Contoh pemeriksaannya adalah kreatinin metode Jaffe dan fosfat. Pada kreatinin metode Jaffe, pengukuran warna yang dihasilkan kompleks kreatinin pikrat menggunakan panjang gelombang 500 nm, sehingga dapat terganggu oleh adanya kadar bilirubin serum yang berlebih.

Kreatinin metode Jaffe (diambil dari insert kit Cobas Roche)

 

Gangguan kimiawi

Beberapa pemeriksaan kimia klinik seperti asam urat, kolesterol, trigliserida, dan kreatinin metode ensimatik, menggunakan hidrogen peroksida sebagai bahan perantara. Bilirubin pada serum bersifat antioksidan yang dapat bereaksi dengan hidrogen peroksida, sehingga dapat mengganggu beberapa pemeriksaan tersebut.

Kreatinin metode ensimatik (diambil dari insert kit Cobas Roche)

Cara mengatasi

Kalium ferisianida dapat ditambahkan pada serum sebelum pemeriksaan untuk merubah suasana menjadi basa. Pada kondisi basa, bilirubin teroksidasi menjadi biliverdin sehingga menurunkan gangguan penyerapan cahaya pada panjang gelombang 500 nm, karena biliverdin baru menyerap cahaya di panjang gelombang 630 nm. Menurut berbagai literatur, penambahan kalium ferisianida dari berbagai konsentrasi dari 15-91 umol/L, efektif dalam menghilangkan gangguan bilirubin dan tidak ada efek samping bermakna terhadap sensitivitas pemeriksaan.

Kalium ferisianida (gambar diambil dari Amazon)

 

Cara lain adalah dengan menggunakan metode “rate-blanking”.  Spesimen ditambahkan NaOH dan diukur nilai kecepatan perubahan warnanya dan digunakan sebagai faktor koreksi untuk nilai setelah ditambahkan asam pikrat. Kelemahan dari cara ini hanya dapat mengoreksi sebagian gangguaan bilirubin. Pemeriksaan kreatinin dengan metode Jaffe Gen.2 dari alat Cobas (Roche) sudah menambahkan metode “rate-blanking” ini pada kit reagennya.

Kita perlu waspada jika mendapatkan spesimen yang secara visual sudah terlihat ikterik, apalagi jika hasil kreatinin yang dihasilkan alat tidak sesuai dengan diagnosis dan klinis pasien. Beberapa alat kimia klinik juga sudah disertai pemberitahuan HIL (Hemolysis Icteric Lipemic) yang perlu dioptimalkan penggunaannya.  Hasil kreatinin yang rendah palsu pada spesimen ikterik perlu mendapat perhatian khusus karena akan sangat mempengaruhi tata laksana terhadap pasien.

 

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Farrell and Carter. Serum indices: managing assay interference. Annals of Clinical Biochemistry 2016. 53(5)

Kroll and Elin. Interference with Clinical Laboratory Analyses. Clinical Chemistry 1994. 40(11)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *