Pemeriksaan Masa Perdarahan (Bleeding Time) Cara Duke

September 7, 2018 Dian Sukma Hanggara 0 Comments

Masa perdarahan atau bleeding time (BT) merupakan salah satu pemeriksaan hemostasis dengan metode tradisional (baca:jadul) yang sering digunakan untuk memperkirakan resiko terjadinya perdarahan akibat pembedahan. Pemeriksaan BT sudah ditinggalkan di berbagai negara maju karena standarisasi pemeriksaan yang sulit dan variasi antar pemeriksa yang lebar. Di Indonesia, terutama di era BPJS, pemeriksaan ini semakin populer karena kemudahan pemeriksaan dan harga yang relatif lebih murah dibanding pemeriksaan hemostasis yang lain.

Tujuan BT adalah untuk menilai fungsi kapiler dan trombosit, sehingga jika ada kelainan pembuluh darah kapiler, jumlah dan/atau fungsi trombosit, nilai BT menjadi abnormal. Beberapa kelainan ini diantaranya adalah:

  • kelainan kolagen, contoh: Sindroma Ehlers Danlos
  • trombositopenia, biasanya <50.000/ul, contoh karena demam berdarah atau ITP
  • kelainan fungsi trombosit, bisa karena konsumsi obat-obatan seperti aspirin dan clopidogrel
  • Von Willebrand disease (VWD)
  • hipofibrinogenemia
  • penyakit mieloproliferatif
  • uremia

 

Ada 2 cara pemeriksaan BT, yaitu cara Duke dan cara Ivy. Cara Duke lebih sering digunakan di Indonesia, karena perlukaannya lebih kecil dibandingkan cara Ivy. Cara duke dilakukan dengan menusukkan lancet ke cuping telinga, sedangkan cara Ivy dilakukan dengan menggoreskan scalpel di lengan bawah sepanjang 6 mm. Artikel ini hanya membahas pemeriksaan BT cara Duke.

Pemeriksaan BT cara Duke

Alat yang digunakan pada pemeriksaan BT cara Duke:

  • Stopwach
  • Kapas alkohol 70%
  • Kertas saring
  • Lancet steril

 

Langkah pemeriksaan BT cara Duke:

  1. Letakkan handuk pada pundak, untuk antisipasi darah tiba-tiba mengucur mengenai pundak pasien
  2. Disinfeksi cuping telinga dengan kapas alkohol 70% dan tunggu kering
  3. Pegang cuping telinga antara ibu jari dan telunjuk.
  4. Tusuk pinggir cuping telinga dengan lancet sedalam 2 mm.
  5. Ketika titik darah terlihat, hidupkan stopwatch
  6. Darah yg keluar dihisap dengan kertas saring setiap 30 detik, tapi tidak boleh menyentuh lukanya.
  7. Tampung lagi tetesan-tetesan darah berikutnya setiap 30 detik. Normalnya, ukuran tetesan makin lama makin kecil
  8. Kalau darah tidak keluar, stopwatch dihentikan. Catat waktu yang ditunjukkan pada stopwatch, atau hitung banyaknya tetesan darah pada kertas saring, lalu kali 30 detik.

 

Menampung tetesan darah pada kertas saring, dan menghitung jumlah tetesan. (Gambar diambil dari Pedoman Teknik Dasar untuk Laboratorium Kesehatan)

 

Laporkan masa perdarahan dalam satuan menit, dengan pembulatan pada setengah menit terdekat, disertai dengan nilai normalnya (nilai normal metode Duke: 1-5 menit).

Jika didapatkan hasil BT yang abnormal atau memanjang, maka perlu dipikirkan beberapa penyebab yaitu kelainan pembuluh darah atau trombosit. Riwayat penggunaan obat-obatan yang dapat mengganggu fungsi trombosit seperti aspirin juga perlu digali lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium yang dapat disarankan adalah:

  • pemeriksaan DL termasuk apusan darah tepi, terutama untuk melihat jumlah dan morfologi trombosit
  • pemeriksaan fungsi trombosit
  • pengukuran aktivitas Von Willebrand Factor

 

Pada pasien hemofilia atau kecenderungan perdarahan akibat kekurangan faktor koagulasi, hasil BT biasanya normal, sehingga hasil BT yang normal tidak dapat menyingkirkan adanya kecenderungan perdarahan yang signifikan pada seorang pasien.

Semoga bermanfaat.

Referensi: WHO. Pedoman Teknik Dasar untuk Laboratorium Kesehatan 2013

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *