Pemeriksaan Laboratorium pada Leptospirosis

February 18, 2019 Dian Sukma Hanggara 0 Comments

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama negara beriklim tropis dengan kelembaban tinggi seperti Indonesia. Gejala klinis leptospirosis sangat bervariasi dari tanpa gejala sampai sangat berat seperti panas tinggi, nyeri sendi dan otot yang hebat, kelainan pernapasan, hati, ginjal, sampai penurunan kesadaran. Penyakit ini sangat jarang dilaporkan karena mempunyai gejala yang mirip dengan penyakit lain seperti flu, demam dengue, hepatitis, malaria, dan penyakit lainnya. Sehingga hanya berdasar gejala klinis tanpa bantuan pemeriksaan laboratorium, sangat sulit untuk menegakkan diagnosis leptospirosis.

 

Infografis leptospirosis di Indonesia (Liputan 6)

 

Spesimen

Pengambilan spesimen tergantung pada fase penyakit, dimana Leptospira biasanya berada di dalam peredaran darah sekitar 10 hari setelah terjadinya infeksi. Berikut jenis spesimen yang dapat digunakan untuk pemeriksaan:

  1. Darah dengan antikoagulan heparin. Diambil pada 10 hari pertama sakit untuk biakan.
  2. Serum. Diambil dua kali dengan selang waktu beberapa hari.
  3. Urin. Untuk biakan, dalam waktu 2 jam harus segera diinokulasi.
  4. Cairan serebrospinal dan dialisat. Digunakan untuk biakan
Gambaran mikroskop elektron Leptospira (Haraji et al., 2011)

 

Pemeriksaan laboratorium

Manfaat dari pemeriksaan laboratorium untuk kasus leptospirosis adalah untuk memastikan diagnosis leptospirosis dan menentukan jenis serovar-serogrup penyebab infeksi yang dapat digunakan untuk mengetahui sumber penularan.

Pemeriksaan laboratorium rutin pada kasus leptospirosis dapat menunjukkan leukositosis dengan shift to the left dan trombositopenia. Peningkatan kreatinin menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal. Peningkatan kadar bilirubin disertai ALP menunjukkan gangguan fungsi hati. Analisis cairan serebrospinal menunjukkan dominasi sel limfosit, kadar protein normal atau meningkat, dan glukosa normal.

Pemeriksaan laboratorium pada leptospirosis

 

Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dapat menggunakan mikroskop lapagan gelap (dark-field), imunoflurosens, atau dengan pengecatan imunoperoksidase. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi Leptospira di darah dan urin, tapi kurang sensitif karena harus ada sekitar 10.000 bakteri/ml untuk dapat melihat satu bakteri per lapang pandang mikroskop.

Gambaran Leptospira pada mikroskop lapangan gelap (Bhatia et al., 2015)

 

Pemeriksaan Biakan

Spesimen dari penderita dibiakan pada media untuk memperbanyak bakteri. Metode ini membutuhkan waktu lama, sangat mahal, memerlukan tenaga ahli berpengalaman, dan sensitifitas rendah. Masa pertumbuhan bakteri cukup panjang sehingga tidak dapat dipakai untuk diagnosis dini.

Spesimen dari darah dan cairan serebrospinal harus diambil pada minggu pertama sakit, sedangkan urin diambil pada minggu kedua. Darah harus diambil sebelum pasien diberikan antibiotik, karena mempengaruhi keberhasilan isolasi bakteri.

Pemeriksaan Serologis

Sebagian besar kasus didiagnosis dengan pemeriksaan serologis, baik itu dengan deteksi antibodi atau deteksi antigen. Ada banyak metode yang saat ini digunakan dan yang dianggap sebagai gold standard adalah microscopic agglutination test (MAT).

MAT digunakan untuk menentukan antibodi dalam serum pasien. Antibodi ini dapat dideteksi dalam darah 5-7 hari sesudah munculnya gejala. Serum pasien direaksikan dengan antigen serovar Leptospira hidup atau mati. Reaksi antigen-antibodi akan menimbulkan aglutinasi yang dapat diamati pada mikroskop lapangan gelap. Pengenceran yang dipakai adalah pengenceran serum tertinggi yang memperlihatkan 50% aglutinasi. Untuk diagnosis diperlukan sepasang serum, dimana peningkatan titer 4 kali lipat dapat memastikan diagnosis. Jika gejala sangat jelas, maka jarak waktu 3-5 hari masing-masing serum sudah dapat mendeteksi peningkatan titer.

Gambaran aglutinasi pada MAT (Prameela et al., 2013)

 

Selain MAT, juga terdapat beberapa pemeriksaan antibodi IgM Leptospira dengan berbagai metode, yaitu ELISA, Dot-ELISA, dan dipstick. Berbagai pengembangan pemeriksaan ini memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang cukup baik.

IgM Leptospira dapat dideteksi 5-7 hari setelah infeksi

 

Pemeriksaan Molekuler

Pemeriksaan molekuler digunakan untuk mendeteksi adanya DNA Leptospira pada serum, urin, dan jaringan. Metode molekuler diantaranya dengan dot-blotting, hibridisasi in situ, dan PCR. Pemeriksaan molekuler ini memiliki kelemahan memerlukan peralatan dan tenaga ahli khusus dengan harga yang mahal.

Kriteria diagnosis laboratorium

Terduga leptospirosis

  • IgM leptospira positif
  • titer MAT 100/200/400 atau lebih pada satu spesimen (tergantung endemisitas suatu wilayah)
  • Ditemukan leptospira secara langsung (dark-field) atau dengan pengecatan.

 

Diagnosis konfirmasi

  • Isolasi bakteri Leptospira
  • peningkatan titer MAT 4 kali atau lebih antara spesimen fase akut dan konvalesen
  • Hasil positif pada 2 rapid test yang berbeda
  • Adanya serokonversi
  • PCR ditemukan DNA Leptospira

 

Semoga bermanfaat.

Sumber

  • Ahmad et al. Laboratory diagnosis of leptospirosis. J Postgrad Med. 2005; 51(3): 195-200
  • Setiawan IM. Pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosis penyakit leptospirosis. Media Litbang Kesehatan. 2008; 18: 44-52
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *