Mengenal Osmotic Fragility Test (OFT) dan Interpretasi Hasilnya

Mengenal Osmotic Fragility Test (OFT) dan Interpretasi Hasilnya

Pemeriksaan laboratorium pada kecurigaan anemia hemolitik memiliki beragam modalitas diagnostik, salah satu uji klasik yang cukup sering digunakan adalah Osmotic Fragility Test (OFT) atau uji fragilitas osmotik eritrosit.

Pemeriksaan ini bertujuan mengukur kemampuan sel darah merah (eritrosit) dalam menahan lisis saat dipaparkan pada larutan salin berkonsentrasi hipotonik.

Prinsip Dasar Pemeriksaan

Secara fisiologis, eritrosit normal berbentuk cakram bikonkaf dengan rasio luas permukaan terhadap volume (surface area-to-volume ratio) yang besar. Bentuk ini memungkinkan eritrosit menyerap air dan mengembang hingga sekitar 70% sebelum membran meregang dan akhirnya lisis.

Prinsip OFT:

  • Eritrosit disuspensikan ke dalam serangkaian larutan NaCl dengan berbagai gradien konsentrasi hipotonik (biasanya buffered saline mulai dari konsentrasi 9,0 g/L hingga 0 g/L / air suling).
  • Tingkat hemolisis pada masing-masing tabung diukur secara spektrofotometri pada panjang gelombang 540 nm dan diplot ke dalam kurva sigmoid.
  • Nilai yang umum dilaporkan mencakup initial lysis (awal lisis), complete lysis (lisis sempurna), serta median corpuscular fragility (MCF / konsentrasi NaCl saat 50% sel mengalami lisis).
  • Pada keadaan normal (darah segar), MCF berada pada kisaran 4,0–4,45 g/L NaCl. Uji ini juga dapat dilakukan setelah darah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C untuk meningkatkan sensitivitas terhadap kelainan membran.
Contoh pemeriksaan OFT pada laboratorium dengan peralatan terbatas, menggunakan spesimen kontrol (orang sehat) sebagai pembanding.

Interpretasi Hasil

Hasil uji fragilitas osmotik pada prinsipnya dibagi menjadi dua pola utama:

1. Fragilitas Osmotik Meningkat (Increased Osmotic Fragility)

Ditandai dengan kurva yang bergeser ke arah kanan. Artinya, eritrosit lebih cepat lisis pada konsentrasi NaCl yang lebih tinggi dibanding eritrosit normal. Kondisi ini terjadi bila eritrosit memiliki rasio luas permukaan terhadap volume yang menurun.

  • Sferositosis Herediter (Hereditary Spherocytosis): Merupakan indikasi klinis tersering. Sel berbentuk sferis dan kaku sehingga daya tampung airnya sangat terbatas sebelum pecah. Kurvanya khas memperlihatkan "tail of fragile cells".
  • Anemia Hemolitik Autoimun (AIHA): Keberadaan mikrosferosit akibat proses fagositosis parsial oleh makrofag juga menyebabkan fragilitas osmotik meningkat.
  • Kelainan membran lain: Hereditary elliptocytosis tertentu dan stomatositosis.

2. Fragilitas Osmotik Menurun / Resistensi Osmotik Meningkat (Decreased Osmotic Fragility)

Ditandai dengan kurva yang bergeser ke arah kiri. Artinya, eritrosit lebih tahan terhadap lisis dan baru akan pecah pada larutan salin yang sangat hipotonik. Hal ini terjadi pada sel-sel darah merah yang gepeng atau tipis (leptocytes / target cells), di mana rasio luas permukaan terhadap volume meningkat.

  • Talasemia: Baik talasemia mayor maupun karier (talasemia trait). Modifikasi uji satu tabung (one-tube osmotic fragility test, biasa memakai NaCl 0,36%) sering dimanfaatkan sebagai skrining awal talasemia di daerah dengan sumber daya terbatas.
  • Anemia Defisiensi Besi (ADB): Eritrosit mikrositik hipokromik dengan penurunan kadar hemoglobin intraseluler.
  • Penyakit Hati / Ikterus Obstruktif: Adanya sel target akibat akumulasi lipid membran eritrosit.
  • Pasca-Splenektomi: Sel-sel retikulosit dan eritrosit muda cenderung memiliki membran yang lebih luas sehingga lebih resisten terhadap lisis osmotik.

Catatan Klinis Laboratorium

Meskipun OFT sangat membantu, interpretasi hasil harus selalu disandingkan dengan evaluasi apusan darah tepi (morfologi sferosit, sel target, fragmentosit), indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC), serta penanda hemolisis lainnya (retikulosit, bilirubin, haptoglobin, Direct Coomb's test). Pada fasilitas kesehatan modern, kecurigaan defek membran seperti sferositosis herediter juga dapat dikonfirmasi dengan metode flow cytometry (uji ikatan pewarna eosin-5-maleimide / EMA) yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi.

Semoga bermanfaat.

Sumber :

  • Bain BJ, Bates I, Laffan MA, Lewis SM. Dacie and Lewis Practical Haematology. 11th Edition.