Perubahan Klasifikasi CML Menurut WHO 2022
Klasifikasi penyakit hematologi oleh World Health Organization (WHO) terus mengalami pembaruan seiring dengan berkembangnya pemahaman molekuler dan kemajuan terapi molekuler terarah (targeted therapy). Pada penerbitan edisi ke-5 (WHO Classification of Haematolymphoid Tumours, WHO 2022 / WHO-HEM5), terdapat perubahan yang cukup signifikan, pada perubahan kriteria, klasifikasi, atau istilah beberapa kelainan hematologi, yang akan menjadi fokus pada beberapa tulisan ke depan.
Salah satu perubahan adalah pada klasifikasi, kriteria, dan penulisan nomenklatur pada Chronic Myeloid Leukemia (CML). Berikut adalah ringkasan poin-poin perubahan utama klasifikasi CML dari WHO 2016 ke WHO 2022 beserta latar belakang klinisnya.
1. Eliminasi Fase Akselerasi (Accelerated Phase / AP)
Perubahan paling mendasar pada WHO 2022 terletak pada penentuan fase penyakit:
- WHO 2016: CML secara klasik dibagi menjadi 3 fase, yaitu Fase Kronis (Chronic Phase / CP), Fase Akselerasi (Accelerated Phase / AP), dan Fase Blas (Blast Phase / BP).
- WHO 2022: Fase Akselerasi (AP) resmi dihapuskan sebagai kategori diagnosis tersendiri. Klasifikasi CML kini secara resmi hanya dibagi menjadi 2 fase utama:
- Fase Kronis (Chronic Phase / CML-CP)
- Fase Blas (Blast Phase / CML-BP)
Rasionalitas Klinis: Di era penggunaan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) modern (seperti Imatinib, Nilotinib, Dasatinib), perjalanan alamiah penyakit CML telah berubah secara drastis. Kriteria yang sebelumnya mendefinisikan fase akselerasi (seperti persentase blas 10–19%, basofilia ≥20%, atau kelainan sitogenetik tambahan/ACA) tidak lagi dipandang sebagai fase transisi biologis linier yang berdiri sendiri, melainkan sebagai fitur risiko tinggi (high-risk features) atau tanda-tanda resistensi/kegagalan terapi TKI pada fase kronis.

2. Pengenalan Konsep CML-CP Risiko Tinggi (High-Risk CML-CP)
Sebagai konsekuesi dari dihapuskannya CML-AP, kriteria-kriteria laboratorium dan klinis yang sebelumnya dipakai untuk mendiagnosis fase akselerasi kini direklasifikasi sebagai faktor risiko tinggi progresivitas pada CML-CP, antara lain:
- Persentase blas darah tepi atau sumsum tulang 10–19%.
- Basofilia darah tepi ≥20%.
- Trombositopenia persisten (<100 × 10⁹/L) atau trombositosis persisten (>1000 × 10⁹/L) yang tidak responsif terhadap terapi.
- Adanya kelainan kromosom tambahan (Additional Chromosomal Abnormalities / ACA) pada sel Ph+, seperti trisomi 8, isokromosom i(17q), atau kromosom Philadelphia kedua (double Ph).
Pasien CML-CP yang memiliki kriteria tersebut diidentifikasi sebagai CML-CP risiko tinggi, yang memerlukan pemantauan respons molekuler (BCR::ABL1 IS) lebih ketat serta pertimbangan pengalihan ke TKI generasi berikutnya lebih awal.

3. Pembaruan Kriteria Fase Blas (Blast Phase / CML-BP)
Meskipun kriteria dasar Fase Blas sebagian besar tetap dipertahankan, terdapat penajaman definisi:
- WHO 2016: Didiagnosis jika ditemukan blas ≥20% di darah tepi/sumsum tulang, terdapat proliferasi blas ekstramedular, atau ditemukannya kelompok/lembaran blas yang signifikan pada biopsi sumsum tulang.
- WHO 2022: Menegaskan kriteria CML-BP dengan ditemukannya:
- Blas mieloid ≥20% pada darah tepi atau sumsum tulang.
- Adanya proliferasi sel blas ekstramedular (seperti pada kelenjar getah bening, kulit, atau tulang).
- Keberadaan limfoblas pada darah tepi/sumsum tulang (karena krisis blas limfoid dapat memerlukan tatalaksana regimen seperti Acute Lymphoblastic Leukemia / ALL, terlepas dari jumlahnya).

4. Standarisasi Penulisan Nomenklatur Genetik
Mengikuti pedoman Human Genome Organisation (HUGO) Gene Nomenclature Committee (HGNC) yang diterapkan pada WHO 5th Edition:
Simbol penulisan gen fusi yang sebelumnya menggunakan tanda hubung (misalnya BCR-ABL1) pada edisi 2016, kini secara resmi diubah menggunakan titik dua ganda (BCR::ABL1) pada edisi 2022.

Semoga bermanfaat. BTK
Sumber: The 5th Edition of the World Health Organization Classification of Hematolymphoid Tumors